Kolintang : Kesenian Tradisional Kebudayaan Sulawesi Utara

Bryan Poluanartikel

Provinsi Sulawesi Utara kaya akan kesenian. Salah satu seni musik yang ada di Provinsi Sulawesi Utara adalah Musik Kolintang

 

 

Kolintang adalah salah satu alat musik tradisional masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Alat musik ini terbuat dari kayu khusus yang disusun dan dimainkan dengan cara dipukul. Sekilas Kolintang ini hampir sama dengan alat musik Gambang dari Jawa, namun yang membedakan adalah nada yang dihasilkan lebih lengkap dan cara memainkannya sedikit berbeda. Kolintang merupakan salah satu alat musik tradisional yang cukup terkenal di masyarakat Minahasa, dan sering digunakan untuk mengiringi upacara adat, pertunjukan tari, pengiring nyanyian, bahkan pertunjukan musik.

 

Sejarah Dan Perkembangan Kolintang

Dahulu kala, tersebutlah sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano. Di desa yang terletak di daerah Minahasa ini, ada seorang gadis yang kecantikannya sudah tersohor ke seluruh pelosok desa. Maka banyaklah pemuda yang jatuh hati. Sang gadis bernama Lintang, pandai menyanyi, dan suaranya pun nyaring serta merdu.

Pada suatu waktu, sebuah pesta muda-mudi diselenggarakan di desa To Un Rano. Saat itu muncullah seorang pemuda gagah dan tampan yang kemudian berkenalan dengan Lintang. Namanya Makasiga, memiliki keahlian di bidang ukir-ukiran. Makasiga kemudian meminang Lintang, yang diterima dengan satu syarat, yaitu: Makasiga harus mencari alat musik yang bunyinya lebih merdu dari seruling emas.

Lalu, Makasiga berkelana keluar-masuk hutan untuk mencari alat musik yang diinginkan Lintang. Untuk menghangatkan badan di malam hari, Makasiga membelah-belah kayu untuk kemudian dijemurnya. Setelah kering, belahan-belahan kayu itu lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ke tempat lain. Saat belahan-belahan kayu jatuh membentur tanah, terdengar bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu. Makasiga senang bukan kepalang. Sementara di tempat lain, dua orang pemburu juga mendengar bunyi-bunyian itu sehingga mencari sumbernya.

Singkat cerita, Makasiga jatuh sakit dan kurus kering karena terlalu fokus mencari alat musik untuk Lintang, sehingga ia lupa makan dan minum. Dua orang pemburu tadi menemukannya dan membawanya kembali ke desanya. Namun karena sakitnya semakin parah, Makasiga pun meninggal dunia. Mendengar Makasiga meninggal, Lintang pun sakit parah dan menyusulnya ke alam baka.

Cerita di atas merupakan cerita rakyat Minahasa mengenai asal usul alat musik kolintang, yang merupakan alat musik tradisional khas Minahasa. Berbahan dasar kayu, namun jika dipukul akan menghasilkan bunyi-bunyi yang nyaring dan merdu. Bunyi yang dihasilkan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat kolintang adalah kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau jenis kayu lain yang ringan tetapi bertekstur padat dan serat kayunya tersusun rapi membentuk garis-garis horizontal.

Kata “kolintang” berasal dari bunyi “tong” untuk nada rendah, “ting” untuk nada tinggi, dan “tang” untuk nada tengah. Dahulu, orang Minahasa biasanya mengajak bermain kolintang dengan mengatakan “Mari kita ber Tong Ting Tang” atau dalam bahasa daerah Minahasa “Maimo Kumolintang”. Dari kebiasaan itulah muncul istilah “kolintang”.

Alat musik kolintang pada awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya yang duduk di tanah, dengan posisi kedua kaki lurus ke depan. Dari waktu ke waktu, penggunaan kaki pemain diganti dengan dua batang pisang. Sementara peti resonator baru mulai digunakan sejak kedatangan Pangeran Diponegoro di Minahasa pada tahun 1830.

Dahulu, kolintang hanya terdiri dari satu melodi yang terdiri dari susunan nada diatonis, dengan jarak nada dua oktaf. Sebagai pengiring, digunakan alat-alat musik bersenar seperti gitar, ukulele dan bas. Namun pada tahun 1954, kolintang sudah memiliki jarak nada dua setengah oktaf dan masih tetap memiliki susunan nada diatonis. Pada tahun 1960, berkembang lagi hingga mencapai tiga setengah oktaf dengan nada 1 kres, naturel, dan 1 mol. Dasar nadanya masih terbatas pada tiga kunci (naturel, 1 mol, dan 1 kruis), jarak nadanya berkembang lagi menjadi  empat setengah oktaf dari F sampai dengan C.

Perkembangan alat musik kolintang masih tetap berlangsung, baik dari segi kualitas alat, perluasan jarak nada, maupun bentuk peti resonator

 

Bentuk Alat Musik Kolintang

Alat musik Kolintang merupakan jenis alat musik tradisional terbuat dari kayu yang dipotong sesuai dengan ukuran dan disusun diatas alas kayu yang berfungsi sebagai resonator. Kayu yang digunakan untuk balok Kolintang biasanya terbuat dari kayu khusus yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar.

Alat Musik Kolintang dapat dikenali dari bentuknya yang unik, yakni serangkaian bilah kayu yang disusun di atas sebuah rak dengan ukuran bilah yang semakin menyusut (mengecil). Panjang pendeknya bilah ini menyesuaikan dengan nada yang ingin dihasilkan. Pemain musik kolintang diharuskan mempelajari bagaimana cara memegang tongkat pemukul dengan baik dan benar, hal ini terkait dengan cara menghasilkan nada pada alat musik ini, dimana terkadang, pemain musik kolintang diharuskan menggunakan tiga buah nada( chord) dalam sebuah lagu. Untuk dapat menghasilkan chord, pemain musik kolintang mau tidak mau menggunakan tiga buah tongkat pemukul. Dalam sebuah rak bilah Kolintang, terdiri dari dua baris bilan nada kayu, dimana tiap nada baik dirak atas maupun rak bawah memiliki tinggi nada yang berbeda. Semakin banyak bilah nada yang digunakan maka semakin lebar jangkauan nada yang dapat dihasilkan oleh seorang pemain musik.

Jenis Alat Musik Kolintang

Pada saat ini alat musik Kolintang terbagi menjadi beberapa jenis yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut terlihat dari suara yang dihasilkannya. Jenis alat musik Kolintang terdiri dari 9 jenis, yaitu : loway (bass), cella(cello), karua (tenor 1), karua rua (tenor 2), uner (alto 1), uner rua (alto 2), katelu (ukulele), ina esa (melodi 1), ina rua (melodi 2) dan ina taweng (melodi 3).

Cara Memainkan Alat Musik Kolintang

Seperti yang dikatakan sebelumnya, cara memainkan alat musik kolintang adalah dengan cara dipukul menggunakan stick khusus. Agar suara yang dihasilkan terdengar bagus maka di unjung stick biasanya diberi bantalan kain, seperti halnya alat pukul musik Gamelan. Stick yang digunakan tersebut biasanya terdiri dari tiga stick yang diberi nomor tersendiri.

Stick nomer satu biasanya digunakan di tangan kiri, sedangkan nomer dua dan tiga dipegang di tangan kanan. Khusus untuk stick dua dan tiga biasanya dipasang di sela-sela jari sesuai dengan accord yang dimainkan. Sama halnya dengan alat musik pada umumnya, alat musik Kolintang mempunyai accord sendiri yang dipukul secara bersamaan. Namun untuk jenis Kolintang bass dan melodi biasanya dimainkan tanpa accord, namun disesuaikan dengan nada yang diinginkan sehingga untuk memainkannya hanya butuh dua stick saja.

Kolintang memiliki fungsi sebagai alat musik penghibur diri, pengiring musik, seni tari tradisional di dalam upacara adat serta digunakan dalam upacara upacara ritual tertentu. Dahulu, keberadaan kolintang sempat digunakan sebagai pengiring musik dalam upacara ritual pemujaan arwah nenek moyang, namun seiring waktu hal tersebut mulai ditinggalkan. Kolintang juga dimainkan ketika ada tamu undangan dari daerah lain, penyambutan tamu kenegaraan di daerah sulawesi utara atau tamu pejabat negara yang datang berkunjung melakukan kunjungan kedaerahan. Dewasa ini kolintang digunakan sebagai alat musik penghibur dan kerap ditampilkan dalam panggung panggung besar memainkan lagu lagu pop dan sejenisnya. Dalam acara acara adat dan acara musik tradisional, grup grup musik kolintang pun tak sedikit yang mengambil bagian.

Kabarnya, pelafalan Kolintang asalnya dari bahasa Minahasa yaitu Kumolintang (TongTingTang), terjadi proses dari pelafalan itu, lambat laun “Kumolintang” berubah menjadi Kolintang, dan nama Kolintang tersebut dipakai sampai sekarang.

Kabar baiknya, sekarang Kolintang mulai kembali digemari oleh generasi muda, terutama di daerah Minahasa. Dengan kreatifitas mereka, terjadilah kolaborasi Kolintang dengan alat musik lainnya dalam mengiringi lagu lagu pop, jazz atau rock. Musik modern tanpa menghilangkan khas tradisional.

Pada pertunjukan upacara adat, pertunjukan tari-tarian, nyanyian daerah, bahkan kesenian lokal, alat musik Kolintang selalu mengiringnya.

Ketika pementasan, semua jenis instrumen Kolintang disusun berdasarkan formasi tertentu supaya menghasilkan perpaduan nada yang klop serta mudah dikombinasikan. Ada banyak cara untuk melestarikan alat musik tradisional Indonesia. Salah satunya dengan mengenalkan kepada anak didik diseluruh Indonesia dan didukung dengan kampanye dari berbagai media, baik media cetak, eletronik atau sarana Komunikasi Daring.

Pembuatan Alat Musik Kolintang

Pada umumnya kolintang dibuat dari kayu pohon, pohon yang digunakan adalah pohon pohon lokal seperti Kayu Pohon Wenuang, Kayu Pohon Waru, Kayu Pohon cempaka atau Kayu Pohon Telur. Pohon pohon dipilih sebagai bahan pembuatan utama kolintang karena kayu dari pohon tersebut memiliki tekstur yang kuat namun ringan. Kayu dari pohon terpilih tersebut dikeringkan,kemudian jika sudah benar benar kering maka kayu akan diproses menjadi bilah bilah kecil. Bilah bilah inilah yang kemudian akan dikurangi ukuran panjangnya hingga menghasilkan nada yang sesuai. Dibagian bawah dari kotak rak terdapat kotak resonansi nada yang memperkuat suara nada yang dihasilkan ketika bilah bilah kayu dipukul oleh alat pemukul.

*)Dari berbagai sumber

Polien Lesar